Ia menambahkan, di sisi lain pasar juga bereaksi positif terhadap langkah Presiden AS yang mengagendakan pertemuan untuk melanjutkan negosiasi "fiscal cliff" AS.
"Sementara itu, sentimen lainnya cukup bervariasi baik dari Eropa terutama Perancis maupun Jepang," katanya.
Ia mengatakan, data China yang tercatat positif juga direspon positif pelaku pasar berisiko termasuk di Indonesia. Data China yang positif akan memberikan harapan akan berlanjutnya pemulihan ekonomi.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova menambahkan, rupiah masih dibayangi oleh neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit.
"Defisit neraca perdagangan dalam negeri masih menjadi salah satu faktor penguatan nilai tukar rupiah tertahan," katanya.
Menurut dia, Bank Indonesia yang masih aktif melakukan intervensi terhadap perdagangan mata uang rupiah di pasar valas akan menahan tekanan sehingga diperkirakan nilai tukar domestik dapat terdorong meningkat terhadap dolar AS.(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar